Pengertian Asuransi Jiwa

Asuransi jiwa pada hakekatnya adalah suatu pengalihan atau pelimpahan risiko (risk shifting) atas kerugian keuangan (financial loss) oleh tertanggung kepada penanggung. Risiko yang dilimpahkan kepada penanggung bukanlah risiko hilangnya jiwa seseorang. Melainkan kerugian keuangan akibat hilangnya jiwa seseorang karena mencapai usia lanjut sehingga tidak produktif lagi.

Nilai hidup manusia tercermin dalam besarnya proteksi atau lebih tepatnya dalam jumlah uang pertanggungan (sum insured) atau UP. Secara teoritis jumlah UP ditetapkan sesuai dengan nilai ekonomi hidup manusia, hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi UP terlalu besar (over insured) atau jumlah UP terlalu kecil (under insured).

Sepanjang hidup manusia selalu dihadapkan kepada kemungkinan terjadinya peristiwa-peristiwa yang dapat menyebabkan hilangnya atau berkurangnya nilai ekonomis seseorang yang dapat mengakibatkan kerugian bagi diri sendiri dan keluarganya atau orang lain yang berkepentingan.

Adapun peristiwa-peristiwa yang dapat menimbulkan risiko antara lain :

  1. Meninggal dunia (death) baik secara alamiah (natural death) atau meninggal yang disebabkan oleh kecelakaan (accidental death), dan lain-lain.
  2. Cacat badan (disability, invalidity, incapacity) karena sakit atau kecelakaan.
  3. Hilangnya atau merosotnya keadaan kesehatan (loss of health).
  4. Usia lanjut atau umur tua (old age), dan
  5. Pengangguran (unemployment).

Asuransi jiwa pada umumnya hanya mengelola risiko butir (a) dan butir (d), sedangkan butir (b), (c) pada umumnya dikelola oleh perusahaan asuransi kesehatan, akan tetapi perusahaan asuransi jiwa akan memasukkan sebagai jaminan tambahan (rider) dalam produk utamanya. Sedangkan butir (e) pada umumnya menjadi pengelolaan perusahaan asuransi jaminan sosial pemerintah, dan masalah Sistem Jaminan Sosial (SJSN) di atur dalam UU No. 40 tahun 2004

Pada hakekatnya dasar dari asuransi jiwa adalah adanya sekelompok orang yang menyadari bahwa :

1)       Setiap orang pasti meninggal dunia, tetapi tidak pasti kematian tersebut akan terjadi;

2)       Kematian pencari nafkah akan mengakibatkan hilangnya sumber pendapatan bagi yang berkepentingan. Oleh karena itu diperlukan atau dibutuhkan jaminan keuangan dalam jangka waktu tertentu selama yang ditinggalkan belum dapat menyesuaikan diri dengan kondisi baru;

3)       Usia lanjut dapat mengakibatkan hilang atau berkurangnya pendapatan bagi yang berkepentingan, oleh karena itu diperlukan jaminan keuangan pada hari tuanya sampai meninggal dunia.

Sumber: Dasar-Dasar Asuransi: Jiwa, Kesehatan dan Annuitas. AAMAI – 2011

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>