4 Rahasia Cerdas Finansial di Kala Muda

Pengertian-ekonomi-perusahaan

 

Halo Sahabat OCI~ Bagaimana kabarnya hari ini? Semoga ktia semua dalam keadaan sehat walafiat sehingga kita semua dapat menjalankan aktivitas kita dengan lancar seperti biasanya. Berjumpa kembali di hari Selasa tanggal 7 November 2017. Pada ulasan kali ini OCI akan membahas mengenai pengelolaan finansial di masa muda. Siapa yang tak mendamba memiliki kemampuan kecerdasan secara finansial? Setiap orang pasti menginginkannya. Tak bisa dipungkiri, persoalan ekonomi menjadi hal yang tak bisa terlepas dari kehidupan manusia. Ekonomi menjadi hal yang sangat mendasar. Oleh karena itu, dibutuhkan kemampuan dan pengetahuan dalam mengelola finansial secara mumpuni.

Salah satu kesalahan yang dilakukan oleh seseorang adalah tidak memiliki perencanaan yang matang. If you fail to plan, you plan to fail. Yak, begitulah ungkapan yang paling tepat menggambarkan betapa pentingnya sebuah perencanaan. Maka, hal dasar dalam cerdas mengelola keuangan adalah soal perencanaan.

Nah, bila sudah memiliki perencanaan, bagaimana selanjutnya? Pertanyaan demi pertanyaan pun kembali muncul. Memasuki tahap ini, seseorang perlu membuka diri untuk belajar. “Kalau kuliah, pelajaran pengelolaan finansial ini setidaknya butuh dua semester,” terang Eko P Pratomo, Inisiator Gerakan Indoensia Cerdas Finansial, dalam Workshop Cerdas Finansial.

Namun jangan berkecil hati. Belajar sambil praktik akan bisa membuat seseorang lebih efektif menyerap ilmu lewat pengalaman. Tak ada kata terlambat untuk berbenah.

Praktisi keuangan dan investasi ini mengatakan, kesuksesan maupun kegagalan dalam pengelolaan finansial adalah soal mental. Sederhanaya, bila seseorang ingin meabung, maka dia harus berani menyisihkan penghasilan. Dengan begitu, dia berani untuk mengurangi kesenangan. Uang yang disisihkan itu, disimpan untuk sesuatu yang lebih penting dimasa depan. Nah, inilah yang disebut soal mental.

Banyak orang sejatinya memiliki penghasilan berlebih. Namun, tidak sedikit yang justru diakhir bulan terkena penyakit kanker alias kantong kering. Amat mengerikan dikiranya, bila setiap penghasilan yang didapatkan selalu habis setiap bulannya. “Banyak orang yang masih merasa tidak perlu pengetahuan tentang pengelolaan uang,” kata Eko, yang juga founder Syamsi Dhuha Foundationo itu.

Tentunya, pengetahuan ini bisa menjadi dasar untuk mulai cerdas dalam mengelola finansial. Nah, berikut ini adalah beberapa tips yang disampaikan dalam Workshop Cerdas Finansial.

1. Sadari tujuan berinvestasi

Orang yang memiliki tujuan, dengan yang tidak memiliki tujuan jelas berbeda. Dengan memiliki tujuan, setidaknya kita mendapatkan gambaran tentang apa yang diinginkan. Berinvestasi, berarti kita ingin menabung untuk masa depan. Bisa untuk pendidikan, dana pensiun, maupun untuk mengembangkan investasi lainnya.

2. Pahami skala prioritas

Penting sekali memiliki skala prioritas mulai saat ini. Sebab, hal ini membuat kita bijak dalam menggunakan finansial. Dianjurkan, mulai saat ini memiliki dua rekening. Dimana rekening A untuk kegiatan operasional sehari-hari. Sedangkan rekening B untuk simpanan dana darurat. Apa itu dana darurat? Dana ini bisa digunakan dalam keadaan darurat dan tidak boleh digunakan untuk kebutuhan sekunder.

Besaran idealnya,bila menanggung satu orang, maka jumlahnya minimal 3 kali gaji bulanan. Namun, bila sudah berkeluarga, maka dana darurat tersebut harus disesuaikan dengan jumlah yang ditanggung. Nah, dana ini harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum kita menginginkan hal lain. Artinya, harus siap tidak pergi travelling bila dana darurat tersebut belum mencapai target.

Bila dana darurat tersebut sudah dipenuhi, maka seseorang bisa menggunakan dana sisa di tabungan lain. Agar lebih bermanfaat, bisa digunakan unutk sesuatu yang produktif. Misalnya, bila dengan membeli sepeda motor ternyata bisa memangkas ongkos transportasi selama berhari-hari. Maka kendaraan tersebut memberikan nilai lebih. Namun, bila sebaliknya kendaraan tersebut tidak memberikan nilai produktif, maka sebaiknya ditunda. Sebab, bisa menjadi beban dimasa mendatang dan juga ada penurunan nilai barang.

Tentukan tujuan hidup kita beberapa tahun ke depan. Ini penting untuk bisa menentukan prioritas pendanaan. Entah itu untuk menikah, pendidikan, maupun investasi. “Investasi diujukan untuk suatu objektif tertentu,” kata Eko.

3. Penting menyiapkan dana pensiun atau pendidikan anak?

Pertanyaan semacam ini tak jarang melintas. Manakah yang lebih penting? Dalam paparannya, Eko menyampaikan menyiapkan dana pensiun itu lebih penting dibandingkan dengan menyiapkan pendidikan anak. Pasalnya, seorang anak masih bisa memiliki pilihan dalam memenuhi pendidikan. Bisa lewat beasiswa misalnya.

Bandingkan dengan dana pensiun. Persiapan ini banyak ditempuh hanya oleh orang yang bersangkutan saja. Nah, oleh karena itu ini menjadi penting. Coba saja bayangkan, bila dana pendidikan itu lebih penting dari dana pensiun. Kalau memiliki anak tujuh, bagaimana coba?

4. Jangan lupa berdoa

Segala upaya yang sudah dilakukan, tanpa didasari dengan doa menjadi masakan tanpa garam. Hambar. Semua kejadian dan rencana sudah ada yang mengatur. Semoga dengan berdoa akan menjadi rencana terbaik bagi kita, juga semakin memantapkan niat seseorang untuk bisa menjadi lebih baik.

Oleh karena itu, bijak dalam mengelola finansial bukan berarti membuat seseorang menjadi pelit dan enggan berbagi. Cerdas finansial, bisa juga meningkatkan kecerdasan spiritual dan sosial kita. Bila ada harta berlebih, maka akan indah bila berbagi dengan sesama. Karena Tuhan akan menambah nikmat hambanya lagi, bila mau berbagi.

Sumber: personalfinance.kontan.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>