“Langkah Dosen di Jalan Asuransi”

SCAN MAR (2)Awan mendung yang meneteskan rintik hujan menyelimuti Jakarta sepanjang hari itu, Kamis, 15 Februari 2018. Namum, kondisi cuaca yang kelabu tak menyurutkan niat Prihantoro, Direktur utama Asuransi Jiwa Reliance Indonesia (AJRI) atau Reliance Life, untuk berbagi cerita kepada Infobank. Di ruang kerjanya di lantai 27 Menara Batavia, Jakarta, pria berdarah Jawa Timur ini memberikan pandangannya tentang perkembangan asuransi jiwa, perkembangan Reliance Life, serta leadershipnya dalam memimpin korporasi. Saat bersua dengan Infobank, Prihantoro didampingi Jimmy Jerry dan Gideon Heru Prasetya. Keduanya adalah direktur di perusahaan asuransi jiwa yang bernaung di bawah Reliance Capital Management.

Prihantoro boleh dibilang wajah baru di industri asuransi jiwa. Sebelumnya, pria kelahiran Jakarta, 2 November 1969, ini berkarier sebagai pendidik alias dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma sejak 1995. Hingga saata ini, Prihantoro masih aktif membimbing skripsi serta mengajar mahasiswa program magister dan doktoral. Tiap malam atau pagi di hari Senin, Selasa atau Rabu, bapak dua anak ini mengajar mata kuliah pengambilan keputusan, manajemen dan bank, financial institution, institusi depositori dan decision support system.“Bagi saya, mengajar itu seperti vitamin,” ujar doktor alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, ini.

Sebagai praktisi pendidikan, Prihantoro baru nyemplung ke industri asuransi jiwa pada 2012, tepat saat Reliance Life dibentuk. Semua berawal ketika sang dosen yang berlisensi ahli asuransi ini menerima tawaran temannya dari Asosiasi Ahli Manajemen Asuransi Indonesia (AAMAI) yang juga salah satu direksi di Reliance General Insurance, untuk membangun Reliance Life bersama Jimmy Jerry.

Tantangan demi tantangan dihadapi Prihantoro. Bahkan, saat pertama kali ia menduduki kursi direktur utama. Sebagai pendiri yang buta dunia asuransi jiwa, ia susun strategi unutk menyasar mass market, melawan arus dari kebanyakan perusahaan asuransi jiwa yang ada. Fondasi bisnisnya hanya untuk menebar manfaat kepada masyarakat kecil dengan harapan menaikkan derajat rakyat miskin di Indonesia lewat asuransi. Namun, niatnya itu tak semulus jalan tol. Tidak sedikit yang justru meremehkannya.

“Jadi, pada saat kami mendirikan, kami presentasi, ‘ini lo, kami ingin menyasar middle low, kami ingin berdayakan, potensinya begini’. Mereka bilang, ‘Ah, itu uang recehan. ‘Namun kami ngomong, tolong kasih waktu kami untuk membuktikan dalam waktu setahun, pasti kami sudah profit,” kenang Prihantoro.

Dan, perjuangannya ternyata membuahkan hasil. Setelah berjalan delapan bulan, Reliance Life mencetak profit hingga Rp64 miliar. Semua itu tidak didapat dengan mudah. Prihantoro bersama tim harus blusukan dari daerah ke daerah untuk memperkenalkan Reliance Life kepada masyarakat. Lewat pendekatan membumi “ala orang Indonesia” yang dijagokannya, yaitu nongkrong, ngopi dan duduk bersama mendengarkan kebutuhan masyarakat, kini Reliance Life telah memiliki nasabah di banyak daerah, seperti di Bali, Yogyakarta, Semarang, Solo, Surabaya dan Riau. Bahkan, di Riau ada pengguna yang bisa menyekolahkan anaknya hingga ke luar negeri. Prihantoro merasa, langkahnya terjun ke dunia asuransi jiwa merupakan pilihan tepat. Membangun sebuah perusahaan dari awal membuatnya merasa memiliki manfaat dan legacy yang bisa diberikan. Itu pula yang menjadi alasan pria pehobi fotografi ini melebarkan sayap kariernya ke dunia asuransi jiwa, yakni bermanfaat untuk orang lain.

“Saya tidak tahu beberapa tahun ke depan seperti apa. Jadi, saya jalani saja. Ikuti kemana air mengalir, yang penting bisa memberikan manfaat untuk orang lain. Karena, kita besok masih hidup atau tidak, kita sama-sama tidak tahu,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>