Pelaku Asuransi Jiwa Semakin Optimistis

??????????????Halo Sahabat OCI~ bagaimana kabarnya hari ini? Semoga kita semua dalam keadaan sehat walafiat sehingga kita semua dapat menjalankan aktivitas kita dengan lancar seperti biasanya. Berjumpa kembali di hari Senin tanggal 16 April 2018. Pada ulasan kali ini OCI akan membahas mengenai pemasaran asuransi jiwa yang dinilai masih potensial pada paruh pertama tahun 2018. Potensi pertumbuhan ekonomi dinilai masih cukup terbuka dan adanya agenda pemilihan kepala daerah serentak di sejumlah wilayah dinilai mampu menjadi stimulus bagi konsumsi masyarakat.

Direktur Eksekuti Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Togar Pasaribu mengatakan pihaknya tetap optimis dengan perkembangan ekonomi nasional pada tahun ini. Proyeksi yang dijabarkan oleh sejumlah lembaga multinasional, seperti Asian Development Bank dan World Bank, memberikan keyakinan akan peningkatan kinerja ekonomi nasional dan seluruh industrinya.“Ekonomi nasional diyakini masih bertumbuh dari tahun lalu. Tidak ada kekhawatiran soal itu,” ungkapnya.

Togar mengatakan adanya perhelatan agenda politik pada tahun ini juga seharusnya menjadi pemicu bagi peningkatan konsumsi masyarakat. Dia meyakini belanja politik akan meningkatkaan perekonomian nasional, termasuk untuk sektor asuransi jiwa.

Apalagi, dia menilai saat ini belanja politik tidak murah. Padahal, pemilihan kepala daerah pada 27 Juni 2018 akan dilakukan serentak di 171 daerah.

“Artinya tingkat konsumsi akan bagus. Belanja politik tidak murah.”

Terpisah, Chief Marketing Officer PT Sun Life Financial Indonesia (Sun Life) Shierly Ge mengatakan pihaknya juga optimistis menghadapi pasar asuransi kendati dihadapkan pada agenda politik nasional tersebut. Menurutnya, pihaknya meyakini momen tersebut akan tetap berimbas positif terhadap laju pertumbuhan industri asuransi.

Selain itu, jelasnya, perkembangan masyarakat kelas menengah masih terus berlanjut pada tahun ini.

“Pertumbuhan ekonomi yang stabil baik di kota-kota besar serta kota lapis kedua dan lapis ketiga juga berpotensi melahirkan masyarakat kelas menengah  baru dengan daya beli yang lebih baik,” ungkapnya.

Shierly mengatakan pihaknya memproyeksikan pertumbuhan kinerja sejalan dengan prediksi (AAJO), yakni dikisaran 10%-30%.

Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso kian optimistis dengan pertumbuhan industri jasa keuangan sepanjang 2018, terutama setelah Moody’s Investor Service menaikkan peringkat utang Indonesia dari Baa3/outlook positif menjadi Baa2/outlook stabil.

Perubahan peringkat tersebut diyakini akan berdampak positif mendorong pertumbuhan industri jasa keuangan dan stabilitas perekonomian Indonesia.

“Peningkatan rating Moody’s akan meningkatkan kepercayaan investor untuk berinvestasi di Indonesia termasuk di industri jasa keuangan khususnya di pasar modal,” ujarnya.

Wimboh juga akan meyakini perbaikan rating Moody’s ini juga menunjukkan kepercayaan akan stabilitas sistem keuangan nasional yang tetap terjaga, di tengah dinamika ekonomi global dan risiko geopolitik yang terjadi saat ini dan ke depan.

Seperti diketahui, Jumat (13/4/2018), lembaga pemeringkat menaikkan rating utang Indonesia atas dasar kerangka kebijakan Pemerintah Indonesia yang kredibel dan efektif yang kondusif bagi stabilitas makroekonomi.

“Fokus kebijakan yang kredibel pada kebijakan makroekonomi yang didukung oleh penyangga keuangan yang substansial mengurangi risiko depresiasi mata uang yang tajam dan berkelanjutan.”

Sumber: finansial.bisnis.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>