Batasi Pemilikan Asing, Sri Mulyani Ingin Industri Asuransi Jadi Penggerak Ekonomi RI

mengenal-asuransi-mikro-dan-manfaatnya-1Halo Sahabat OCI~ bagaimana kabarnya hari ini? Semoga kita semua dalam keadaan sehat walafiat sehingga kita semua dapat menjalankan aktivitas kita dengan lancar seperti biasanya. Berjumpa kembali di hari Senin tanggal 28 Mei 2018. Pada ulasan kali ini OCI akan membahas mengenai Kementerian Keuangan yang mensosialisasikan Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2918 tentang kepemilikan asing pada perusahaan asuransi. Melalui aturan ini, Pemerintah membatasi investor asing untuk memiliki saham lebih dari 80% pada perusahaan asuransi.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, dengan adanya aturan tersebut, dirinya berharap agar perusahaan asuransi bisa lebih berkembang lagi. Khususnya dalam menopang kinerja pertumbuhan ekonomi negara.Menurutnya, suatu negara tidak akan berkembang perekonomiannya tanpa adanya kontribusi dari industri keuangan. Seperti diketahui industri keuangan ada banyak macamnya, ada perbankan, pasar modal, hingga asuransi.

“Suatu perekonomian bisa maju maka kita pasti membutuhkan industri keuangan yang makin dalam dan berkembang. Karena tidak ada negara satu pun di dunia yang high income country tapi sektor keuangannya under develop. Oleh karenaya industri asuransi merupakan salah satu yang sangat perlu bagi perekonomian Indonesia,” ujarnya dalam acara sosialisasi PP Nomor 14 tahun 2018 di Aula Mezzanine Kementerian Keuangan.

Apalagi lanjut Sri Mulyani, potensi asuransi Indonesia masih sangat tinggi sekali mengingat tingginya jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta. Dengan jumlah penetrasi yang masih relatif rendah dan bahkan terendah di antara negara-negara Asia Tenggara (ASEAN).

“Tingkat penetrasi dibandingkan negara ASEAN masih tertinggal. Artinya jumlah penduduk mencapai 250 juta penetrasinya walking the lowest di ASEAN lima khususnya,” ucapnya.

Oleh karena itu, indsutri asuransi harus lebih didorong lagi agar bisa mengejar ketertinggalan tersebut. Sehingga akan berdampak kepada perekonomian negara yang semakin stabil.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menjelaskan betapa pentingnya industri asuransi bagi negara-negara maju dalam menunjang perekonomian negaranya. Di negara maju, hampir semua penduduk berpenghasilan menengahnya sudah mulai melek terhadap inklusi keuangan.

Artinya, masyarakat mereka banyak yang sudah mulai mencari instrumental investasi unutk menaruh uangnya. Tidak jarang asuransi menjadi instrumen yang diminati oleh mereka baik dari mulai asuransi kesehatan, pendidikan, hari tua hingga asuransi kematian.

“Karena masyarakat masuk kelompok menengah. Mereka akan mencari instrumen investasi. Mereka bisa membeli instrumen Coorporation Bond sampai stock exchange. Itu adalah variasi yang dibutuhkan masyarakat dimana mereka memiliki ruang untuk investasinya,” jelasnya.

Namun lanjut wanita yang biasa disapa Ani, bukan berarti adanya harapan tinggi terhadap industri asuransi bukan berarti harus dilepas bebas tanpa aturan. Perlu sebuah aturan yang jelas agar industri asuransi bisa berjalan sehat.

Salah satunya adalah masalah kepemilikan asing pada perusahaan asuransi. Menurutnya, kepemilikan asing terhadap perusahaan asuransi harus dibatasi agar investor lokal juga bisa merasakan hasil dan menyerap ilmunya untuk di kemudian hari membuat dan membangun sendiri industri asuransi dalam negeri yang lebih baik.

“Keberadaan mitra asing dalam UU industri asuransi itu perlu bukan berarti bebas tidak terbatas. Omega keren itu pemerinatah mencoba mengkombinasikan di satu sisi membangun industriagro asuransi dan domestik yang perlu ditingkatkan,” kata Ani.

Sementara bagi perusahaan asuransi khususnya yang dimiliki oleh pengusaha dalam negeri, ada hal yang menjadi perhatian dalam permodalan asuransi. Adalah bagaimana sebisa mungkin kita mencari pemodal yang memang ingin mendapatkan returnya dalam jangka panjang.

“Menciptakan suatu indsutri asuransi yang sehat dan kompetitif perlu suatu permodalan yang kuat. Industri asuransi itu dalam istilahnya main panjang. Dia membutuhkan modal yang besar dan harus ditanamkan jangka panjang. Kalau sehari dapat enggak akan cocok dengan industri asuransi,” jelasnya.

Sumber: economy.okezone.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>