Monday Sickness dan Hal Lain yang Tak Lagi Relevan

milenialSelamat pagi Sahabat OCI~ bagaimana kabarnya hari ini? Semoga kita semua dalam keadaan sehat walafiat sehingga kita semua dapat menjalankan aktivitas kita dengan lancar seperti biasanya. Berjumpa kembali di hari Selasa tanggal 4 Desember 2018. Pada ulasan kali ini OCI akan membahas mengenai Monday Sickness. Seorang teman dari kantor sebelah terburu-buru untuk segera mengakhiri makan siangnya. Alasannya, hari itu tak ada satu pun timnya yang masuk. Alasannya sakit.

Namun ia sangat memahami, teman-teman satu timnya tidak benar-benar sakit. Mereka hanya mengalami monday sickness, kemalasan yang sangat setelah dua hari libur. Saat ini, ketika semuanya sudah “ter-connected” di internet, alasan itu mestinya tidak akan ada lagi. Karena kita bisa bekerja di mana saja dan kapan saja tanpa terhalang waktu dan tempat. Kita bisa bekerja kapan saja dan istirahat kapan saja. Saat ini bekerja dan berlibur nyaris tak bisa dibedakan.Beberapa waktu lalu, saya sering melihat keluhan memilukan di time line (garis waktu) ketika ia harus kerja di hari minggu. Sebagian yang lain justru malah dengan bangga memamerkan karena mengisi hari minggunya dengan kegiatan yang super positif, menyelsaikan pekerjaan karena deadline.

Perlu proses memang untuk sampai pada budaya ‘digital live’, memanfaatkan internet sebagai bagian dari hidup sehari-hari. Mayoritas orang masih memakai internet untuk bersenang-senang: mencari teman, mencari informasi terkini atau jadwal tim.

Dengan adanya internet kita harus merevolusi mindset dan perilaku untuk menyesuaikan budaya baru itu. Banyak hal yang sudah tak relevan diterapkan di jaman yang sudah serba terhubung ini. Misalnya di kantor, kerajinan seorang karyawan tidak ditentukan oleh lamanya duduk di meja. Sehingga ia tak perlu khawatir lagi absennya banyak merahnya.

Karena semuanya sudah terhubung, kita bisa menyelesaikan pekerjaan di warung kopi atau mall. Beberapa warung kopi di Pondok Indah tampaknya cukup antisipatif menghadapi kecenderungan ini.

Banyak warung kopi yang 24 jam atau minimal sudah buka jam 8 pagi. Hemat tenaga dan waktu, tak perlu menembus meja kemacetan Jakarta untuk sampai di kantor. Dengan begitu istilah ‘office hour’ menjadi kata yang arkais.

Bekerja tidak selalu di kantor pasti akan lebih menyenangkan. Seperti yang dilakukan @namacontoh (nama fiksi), ia telah menjadikan mal sebagai kantor keduanya. Selain suasana yang selalu baru setiap harinya, ia juga sekaligus bisa bertemu teman satu gengnya dari komunitas lain. Ide-ide segar pun akan bermunculan.

Hanya pekerjaan yang benar-benar tak bisa diselesaikan secara online seorang karyawan harus datang ke kantor. Artinya ruangan yang dipakai juga lebih sempit. Sehingga penggunaan listrik, AC, air minum dan lainnya juga lebih sedikit.

Yang paling menjadi ‘korban’ dari teknologi yang terus berkembang itu adalah printer. Semua pekerjaan bisa dihandle tanpa harus melibatkan kertas (paperless). Andai saja semua sudah menerapkan, kemungkinan pertumbuhan penggundulan hutan tropis akan terhambat.

Di era social media ini, benda-benda semacam post it, ‘punch’, binder clip, stappler, stabilo dan kawan-kawannya nyaris masuk ke museu dan istilah ‘i don’t like Monday’ yang sudah populer menjadi ‘I like Monday’ pun mestinya berubah menjadi fun everyday.

Sumber: inet.detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>