Ada Kartu Kredit Syariah, Apa Saja Perbedaannya Dibandingkan Kartu Kredit Konvensional?

potensi-ekonomi-syariahSelamat pagi para pembaca OCI~ bagaimana kabarnya hari ini? Semoga kita semua dalam keadaan sehat walafiat sehingga kita semua dapat menjalankan aktivitas kita dengan lancar seperti biasanya. Berjumpa kembali di hari Jumat tanngal 8 Februari 2019. Pada ulasan kali ini OCI akan membahas mengenai apa perbedaan dari kartu kredit syariah dengan kartu kredit konvesnional. Kita semua tahu bahwa sekarang ini, selain Lembaga keuangan konvensional, ada juga Lembaga Keuangan berbasis Syariah. Ya, kehadiran Lembaga Keaungan berbasis syariah tersebut pun tentu saja menjadi angin segar untuk sejumlah masyarakat yang menginginkan alternatif perbankan, utamanya mereka yang menginginkan kegiatan finansial berlandaskan hukum-hukum syariat Islam.

Hal yang kemudian dimanfaatkan pula oleh sejumlah Lembaga Keuangan Konvensioanl untuk turut meluncurkan produk Syariahnya ke khalayak. Nah, hal menarik yang akan dibahas pada artikel kali ini yaitu soal salah satu produk yang dimiliki oleh Lembaga Keuangan Syariah seperti Bank Syariah, yakni kartu kredit Syariah.Tunggu dulu, kartu kredit syariah? Kok bisa? Apakah tidak ada bunganya? Ya, seperti layaknya bank konvensional, bank Syariah pun menawarkan fasilitas kartu kredit yang bisa kita gunakan untuk melakukan transaksi non-tunai di berbagai merchant yang telah bekerjasama dengan pihak bank penerbit kartu kredit Syariah tersebut.

Melihat sistem antara bank konvensional dan bank Syariah yang kontradiktif, tentu rasanya agak sulit menyadari bahwa bank Syariah bisa memiliki produk kartu kredit. Tapi, ya seperti itulah kenyataannya. Nyatanya ada juga kredit Syariah.

Seperti apa produk kartu kredit Syariah tersebut? Apa ayng menjadi pembeda jika dibandingkan dengan kartu kredit konvensional? Simak informasinya berikut ini.

Apa itu Kartu Kredit Syariah?

Dalam dunia perbankan berbasis Syariah, produk kartu kredit Syariah dikenal dengan nama bithaqah al-I’timan. Secara fungsi, kartu ini tidak memiliki perbedaan berarti dengan kartu kredit konvensional. Hanya saja  kembali lagi, kartu kredit Syariah ini dalam penerapannya tetap berlandaskan pada hukum Syariah.

Kartu Kredit Syariah pun telah diatur dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional – Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) No. 54/DSN-MUI/X/2006, tentang kartu kredit syariah.

Lantas, kita mungkin bertanya-tanya apa bedanya antara kartu kredit Syariah dengan kartu kredit konvensional jika secara fungsi terbilang sama. Ini dia beberapa informasi penting terkait kartu kredit syariah yang harus diketahui:

1. Pihak Penerbit Kartu Kredit

Hal pertama yang paling membedakan antara kartu kredit Syariah dengan kartu kredit konvensional adalah tentu saja pihak penerbitnya. Kartu Kredit Konvensional diterbitkan oleh bank konvensional, sedangan kartu kredit syariah diterbitkan oleh bank berbasis syariah. Walaupun, kini sejumlah bank konvensional juga melebarkan sayapnya dengan meluncurkan versi syariahnya.

2. Kartu Kredit Syariah menggunakan Sistem Akad

Sebagaimana yang kita ketahui, dalam hukum ekonomi Syariah, tidak ada yang namanya sistem bunga. Pada bank konvensional, denda berikut bunga akan dibebankan kepada nasabah saat hendak membayar tagihan kartu kredit. Sedangkan untuk kartu kredit Syariah, sistem bunga tidak diterapkan. Sebagai gantinya, ketentuan pinjaman dalam bentuk kartu kredit diatur dalam akad qardh dan sejumlah akad lainnya.

3. Penghitungan Angsuran Kartu Kredit

Faktor pembeda kedua antara kartu kredit Syariah dengan kartu kredit konvensional yakni seputar penghitungan angsuran kredit. Pada kartu kredit konvensional, komponen utama biasanya terdiri dari utang dan bunga.

Nah, karena di Bank Syariah tidak mengenal sistem bunga, maka diganti dengan yang namanya monthly fee. Biaya ini merupakan biaya bulanan yang muncul dan telah disesuaikan dengan limit dari kartu kredit Syariah kita.

Penghitungan monthly fee pada kartu kredit Syariah ini terbilang menguntungkan karena bergantung pada sisa hutang kita di bulan tersebut. Berbeda dengan sistem bunga pada bank konvensional dimana beban didasari segala jenis transaksi yang kita lakukan di bulan sebelumnya. Dengan begitu, jumlah cicilan tiap bulannya akan lebih kecil jika dibandingkan dengan bank konvensional.

4. Penetapan Denda di Awal

Pada kartu kredit Syariah, sistem denda juga diberlakukan. Namun, besarannya sudah ditentukan di awal saat mengajukan pembuatan kartu kredit. Denda yang kemudian disebut tawidh ini tidak lagi menghitung denda berdasarkan keterlambatan maupun besaran tagihan. Semua sudah ditetapkan berdasarkan jenis kartu dan tanggal jatuh tempo, pun info besarannya sudah diberitahukan di awal.

5. Tidak Banyak Promo

Akan tetapi, tidak seperti kartu kredit bank konvensional yang sering mengadakan promo, kartu kredit Syariah karena berlandaskan hukum Syariah maka tidak banyak memberikan benefit promo kepada penggunanya. Hal ini dikarenakan tujuan dari penggunaan kartu kredit ini lebih dikhususkan kepada transaksi yang sifatnya produktif.

Kartu Kredit Syariah untuk Transaksi yang Lebih Produktif

Dari karakteristik kartu kredit Syariah di atas, dapat disimpulkan bahwa sejatinya kartu ini cocok sekali untuk kita yang menginginkan kartu kredit dengan biaya cicilan yang lebih ringan. Pun, untuk yang tidak ingin menggunakan kartu kredit untuk bertransaksi kebutuhan-kebutuhan yang sifatnya tersier, akan tetapi ke hal-hal yang sifatnya primer. Jadi, kembali lagi kepada kebutuhan kita masing-masing.

Sumber: cermati.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>