3 Risiko Mengintai di Balik Tarik Tunai Kartu Kredit

creditcardsSelamat pagi para pembaca setia OCI~ bagaimana kabarnya hari ini? Semoga kita semua dalam keadaan sehat walafiat sehingga kita semua dapat menjalankan aktivitas kita dengan lancar seperti biasanya. Berjumpa kembali di hari Jumat tanggal 15 Maret 2019. Pada ulasan kali ini OCI akan membahas mengenai apa saja yang menjadi risiko di balik melakukan tarikan tunai dengan menggunakan kartu kredit. Kartu kredit merupakan salah satu produk perbankan yang paling banyak diminati. Jika kita termasuk pengguna kartu kredit, pasti sering menikmati manfaat alat pembayaran yang satu ini. Praktis dan mudah digunakan, wajar saja jika angka pengguna kartu kredit terus bertambah.

Kartu kredit yang sering disebut kartu sakti ini memberikan banyak keuntungan dalam bertransaksi, termasuk untuk berbelanja. Lalu, bagaimana ketika kartu kredit digesek yang sejatinya kamu berutang, malah digunakan untuk tarik tunai?Fasilitas tarik tunai kartu kredit memang sangat menggiurkan. Caranya juga mudah, tinggal pergi ke mesin ATM, bisa langsung taruk tunai dengan menggunakan kartu kredit. Jadi tidak perlu syarat macam-macam mengajukan pinjaman ke bank. Meski bank menetapkan batasan atau limit penarikan, namun kalau tidak mendesak sekali, sebaiknya tarik tunai kartu kredit dihindari karena beberapa risiko ini.

1. Bunga dan biaya yang besar

Berbeda dengan menggesek kartu kredit saat transaksi belanja, bila kita tarik tunai akan dikenakan bunga dan biaya administrasi cukup besar. Semakin besar nilai tarik tunai, semakin besar pula tagihan akibat biaya dan bunga. Bunga yang dibebankan untuk tarik tunai jauh lebih besar pula tagihan akibat biaya dan bunga. Bunga yang dibebankan untuk tarik tunai jauh lebih tinggi dibanding bunga transaksi belanja. Selisihnya bisa mencapai 0,5% sampai 2%, tergantung kebijakan bank penerbit kartu kredit. Sementara biaya tarik tunai kartu kredit biasanya dikenakan sebesar 4%, bahkan ada yang mencapai Rp50.000. Biaya itu dibebankan langsung saat penarikan.

2. Kredit macet sampai risiko pencucian uang

Untuk menghindari biaya administrasi yang tinggi saat tarik tunai di ATM, ada pengguna kartu kredit yang mengakalinnya menggesek tunai di merchant. Jadi seolah-olah pengguna berbelanja di merchant, namun yang diperoleh bukan barang melainkan uang tunai. Kegiatan tarik tunai kartu di merchant ini sudah dilarang oleh Bank Indonesia karena dapat menjerat pengguna kartu kredit dalam pinjaman yang semakin besar. Buntutnya bisa mejnadi kredit bermasalah atau kredit macet.

Selain itu, praktiktarik tunai kartu kredit di merchant sangat rentan dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk pencurian dan penyalahgunaan data, pembobolan, hingga kegiatan pencucian uang. Hal ini tentu saja bisa menyeret kita pada kerugian besar.

3. Skor kredit memburuk

Tarik tunai kartu kredit bisa menjadi kebiasaan yang sulit dihentikan lho. Apalagi sifatnya hanya untuk konsumtif. Tagihan akan menumpuk bila terus melakukan tarik tunai kartu kredit. Konsekuensinya tagihan itu harud dibayar penuh setiap bulannya. Jika tidak, utang akan menggunung karena bunganya makin subur. Akibatnya skor kredit kita memburuk di mata perbankan. Kondisi tersebut akan berimbas pada diri kita, seperti tidak bisa mendapatkan kartu kredit dari bank lain, sampai tidak bisa mengajukan kredit pemilikan rumah (KPR).

Bila kondisi ini berulang, tak bisa melunasi tagihan kartu kredit termasuk untuk penarikan tunai, maka akan berakhir dengan kredit macet. Selain ini meruginkan pihak bank, kemungkinan besar kita pun akan masuk daftar hitam atau di blacklist oleh Bank Indonesia. Yang lebih pahit lagi, kita tidak akan dapat mengajukan atau mengakses layanan perbankan dalam bentuk kredit di perbankan.

Hindari Jika Tidak Terlalu Mendesak

Fasilitas tarik tunbai kartu kredit menjadi salahs atu alternatif untuk mendapatkan dana segara dengan mudah dan cepat. Namun siapa sangka punya risiko yang begitu besar. Oleh karena itu, sebisa mungkin hindari penggunaan tarik tunai kartu kredit jika uangnya tidak digunakan untuk kebutuhan mendesak. Kecuali sakit, harus dirawat di rumah sakit, namun tidak punya dana darurat, tarik tunai kartu kredit bisa menjadi solusi. Asal setelah itu, dilunasi ya tagihan kartu kreditnya.

Sumber: cermati.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>